Oleh: Anna Fazila
LHOKSEUMAWE, RUANGMUDA-
Pantai Ujong Blang pertama kali dibangun 2015 oleh warga Lhokseumawe. Dulu cuma deretan pondok bambu tempat nelayan berteduh. Dari awal sudah ada filosofi yang dijaga: pantai ini milik bersama, bukan untuk dikuasai. Makanya pembangunannya dibuat sesederhana mungkin.
Warga sepakat menyebut Ujong Blang sebagai “ruang pulih”. Pohon cemara tidak ditebang, pondok diarahkan searah angin laut. Tujuannya biar pengunjung dapat ketenangan dan alam tetap asri. Alam menyembuhkan, manusia cukup merawat tanpa serakah.
Aturan tak tertulis itu dijaga lewat gotong royong. Siapa saja boleh usaha di sini, tapi wajib jaga kebersihan dan tidak merusak pemandangan. Karena itu sampai sekarang Ujong Blang bebas beton liar dan sampah menumpuk. Pantai ini tetap jadi rumah bersama semua orang.
2026, warga sekitar pantai membuka pondok rujak di bibir Ujong Blang. Jualannya rujak buah lokal segar yang diramu cepat saji. Konsepnya ikut filosofi awal: berdagang boleh, asal tidak mengganggu kenyamanan pengunjung dan tidak merusak alam.
Pemilik pondok rujak menjaga komitmen yang sama. Sampah dipilah, limbah tidak dibuang ke laut. Prinsipnya sederhana, cari rezeki boleh di sini, tapi pantai harus tetap bersih untuk anak cucu nanti. Sikap itu bikin pengunjung makin respect dan betah lama.
Orang datang ke Ujong Blang bukan cuma cari rujak. Mereka cari suasana. Duduk di pondok, makan rujak, dengar debur ombak sambil lihat sunset. Itu bentuk healing sederhana sesuai nilai 2015: murah, minimalis, tapi bermakna.
Kehadiran pondok rujak jadi contoh UMKM yang selaras alam. Warga berharap pelaku usaha lain ikut jejak yang sama. Dengan begitu Ujong Blang tetap jadi tempat pulih, bukan sekadar deretan lapak. Filosofi 2015 harus terus hidup di setiap generasi.
