Oleh: Siti Nur Aisyah
LHOKSEUMAWE, RUANGMUDA-
31 Mei 2026, pukul 17.00 WIB. Matahari mulai turun. Cuma ada bunyi gesekan sapu yang pas banget beradu sama lagu "Hati-Hati di Jalan" dari Tulus, pengusir penat agar tidak overthinking.
Sebagai anak Universitas Malikussaleh, Aisyah (18) setiap sore harus akrab sama debu kosan. Kadang mager parah, tapi demi tempat istirahat yang nyaman, ritual beresin kamar tidak bisa ditunda lagi.
Lantai penuh kertas kuliah, tapi gawai Aisyah tetap asyik mutar musik. Lagu Tulus itu jadi penawar pas badannya remuk, ngasih energi tambahan buat beresin kekacauan hari ini.
Kamar kosnya sempit, cuma muat kasur lipat sama tumpukan buku. Tapi buat Aisyah, sudut sederhana inilah tempat paling aman buat sembunyi dari padatnya jadwal kuliah yang bikin pusing.
Lewat lagu Tulus, Aisyah sadar kalau berjuang di perantauan memang butuh proses. Anak kos butuh jeda. Kalau dipaksa stres terus, ia takut malah gagal fokus pas kuliah besok pagi.
Sesekali ia taruh sapunya sebentar. Aisyah milih duduk bersandar di lantai menikmati lirik lagu sambil ambil napas dalam, sebelum lanjut beberes dengan perasaan yang jauh lebih plong.
"Tempat nyaman nggak perlu luas. Cukup sudut kamar yang bersih, bantal hangat, dan lagu yang bisa meluk isi hati," kata Aisyah ke teman sekamarnya sore itu.