ruang muda
Be the change that you wish to see in the world

- Mahatma Ghandi
Makam Sultan Malikussaleh, Jejak Sejarah Islam di Tanah Aceh

Oleh: Farhan Farela Mahardika

ACEH UTARA, RUANGMUDA-

Makam Sultan Malikussaleh menjadi salah satu situs sejarah penting di Gampong Beuringen, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara. Makam ini dikenal sebagai peninggalan Kerajaan Samudera Pasai yang erat kaitannya dengan perkembangan Islam di Nusantara.

Sultan Malikussaleh atau Malik Al-Saleh merupakan raja pertama Kerajaan Samudera Pasai. Ia wafat pada 696 Hijriah atau 1297 Masehi.

Keberadaan makam ini bukan hanya menjadi tempat ziarah, tetapi juga menyimpan nilai sejarah yang besar, masyarakat dapat melihat jejak kejayaan yang di abadikan pada Kerajaan Samudera Pasai.

Makam Sultan Malikussaleh juga telah menjadi bagian dari cagar budaya. Sebelumnya, makam ini sempat masuk sebagai Objek Diduga Cagar Budaya (OCDB). Setelah itu, makam tersebut mendapat perhatian melalui revitalisasi oleh pemerintah Aceh Utara pada tahun 2018.

Saat ditemui di kawasan makam, Yakub (51), penjaga makam sekaligus warga yang mengetahui sejarah tempat tersebut, mengatakan makam ini sering dikunjungi masyarakat dari berbagai daerah.“Makam ini sering didatangi orang luar, seperti dari Medan bahkan Jawa. Ada yang datang untuk bermalam dan berdoa di makam ini,” ujar Yakub.

Pengunjung yang datang ke makam ini tidak dikenakan biaya masuk. Di area makam hanya tersedia kotak infak bagi masyarakat yang ingin memberikan sumbangan secara sukarela.

Menurut Yakub (51), waktu kunjungan ke makam tersebut juga tidak dibatasi. Masyarakat dapat datang untuk berziarah, berdoa, atau sekadar melihat langsung peninggalan sejarah Islam di Aceh Utara.

Saat bulan Ramadhan, makam ini juga tetap dibuka untuk masyarakat. Yakub mengatakan, ada beberapa wisatawan asing dan lokal yang mengadakan shalat berjamaah dan kajian selama satu bulan.

Makam Sultan Malikussaleh menjadi bukti bahwa sejarah Islam dan Kerajaan Samudera Pasai masih meninggalkan jejak kuat hingga saat ini.

Karena itu, makam ini penting untuk terus dijaga agar generasi muda tetap mengenal sejarah yang pernah tumbuh di tanah Aceh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *